Teori dan tingkah laku produsen

0

Karena adanya keterbatasan pendapatan dan keinginan untuk mengkonsumsi suatu barang dan jasa sehingga diperoleh kepuasan maksimal, maka muncul perilaku produsen. Perilaku produsen pada dasarnya menjelaskan bagaimana produsen mendayagunakan sumber daya yang ada (uang) dalam memuaskan keinginan atau kebutuhan dari suatu atau beberapa produk. Dalam teori perilaku produsen ini dapat dianalisis dengan beberapa cara, antara lain adalah pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal.

 

A. Pendekatan Marginal Utiliti

Pendekatan Marginal Utility atau pendekatan kardinal adalah pendekatan yang beranggapan bahwa kepuasan konsumen dapat diukur dengan satu satuan, misalnya uang. Marginal utility adalah tambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat dari pertambahan atau pengurangan satu unit barang tertntu. Dalam pendekatan ini digunakan anggapan “Utility bisa diukur dengan uang.”

Hukum Gossen (The Law of Diminishing Returns) berlaku yang menyatakan bahwa “Semakin banyak sesuatu barang dikonsumsi, maka tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap satuan tambahan yang dikonsumsi akan menurun”. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.

 

B. Pendekatan Indifference Curve (Ordinal)

Pendekatan Indifference Curve atau pendekatan ordinal adalah pendekatan yang beranggapan bahwa kepuasan konsumen hanya dapat dinyatakan lebih tinggi atau lebih rendah.

Anggapan dalam pendekatan ordinal sebagai berikut:

  1. Konsumen mempunyai pola preferensi akan barang-barang tertentu.
  2. Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu.
  3. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.

 

Produksi adalah suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Kegiatan menambah daya guna suatu benda tanpa mengubah bentuknya dinamakan produksi jasa. Sedangkan kegiatan menambah daya guna suatu benda dengan mengubah sifat dan bentuknya dinamakan produksi barang. Produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran dapat tercapai jika tersedia barang dan jasa dalam jumlah yang mencukupi. Orang atau perusahaan yang menjalankan suatu proses produksi disebut Produsen. Di dalam kegiatan produksi pasti ada modal.

 

Produksi dapat digolongkan menjadi lima bidang, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Bidang ekstraktif, artinya setiap usaha untuk mengambil hasil alam secara langsung. Misal: pertambangan, perikanan laut, berburu, dan menebang hutan.
  2. Bidang agraris, artinya setiap usaha mengerjakan atau mengolah alam agar diperoleh hasil dari tumbuhan dan hewan. Misal: pertanian, perkebunan, perikanan darat, dan peternakan.
  3. Bidang industri, artinya setiap usaha mengolah dari bahan mentah sampai menjadi barang jadi. Misal: perakitan, pertekstilan, ukir-ukiran, dan kerajinan.
  4. Bidang perdagangan, artinya setiap usaha untuk membeli barang dan menjualnya kembali tanpa merubah bentuk. Misal: perdagangan regional, perdagangan nasional dan internasional.
  5. Bidang jasa, artinya setiap usaha memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan tujuan memperoleh keuntungan. Misal: perbankan, asuransi, pengangkutan, jasa, dan hukum.

Laba atau keuntungan dapat didefinisikan dengan dua cara. Laba dalam ilmu ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk di dalamnya, biaya kesempatan). Sementara itu, laba dalam akuntansi didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya produksi. Perbedaan diantara keduanya adalah dalam hal pendefinisian biaya

Berikut adalah cara menghitung pendapatan atau keuntungan dai usaha yang sedang dijalani

 

Penjualan dalam perusahaan dagang sebagai salah satu unsur dari pendapatan Perusahaan. Unsur-unsur dalam penjualan bersih terdiri dari:

  • penjualan kotor
  • retur penjualan
  • potongan penjualan
  • penjualan bersih

Untuk mencari penjualan besih adalah sebagai berikut:
Penjualan bersih = penjualan kotor – retur penjualan – potongan penjualan.

Contoh:
Diketahui penjualan Rp. 25.000.000,-

Retur penjualan Rp. 125.000,-

Potongan penjualan Rp. 150.000,-

Hitunglah penjualan bersih!

Penjulan bersih = Rp. 25.000.000,- – Rp. 125.000,- – Rp. 150.000,- = Rp. 24.725.000,-

 

Contoh tulisan ilmiah

0

Contoh penulisan ilmiah dengan peristiwa yang sedang terjadi ialah simulasi daerah banjir menggunakan sistem informasi geografis dikota jakarta, jakarta adalah ibukota negara dengan jumlah penduduk yang amat teramat padat. karya tulis ini mencakup permasalahan banjir ibu kota yang selalu menghatui ibu kota negara, oleh karena itulah karya tulis ini dibuat untuk memecahkan permasalahan banjir dengan membuat website sistem informasi geograifs yang menampilkan daerah yang tergenang banjir,  serta dapat mencari rute jalan alternatif yang tidak banjir agar masyarakat dapat selalu menjalani aktifitasnya tanpa terganggu dengan adanya banjir.

Kualitas karya tulis

0

Kualitas karya tulis ditentukan oleh beberapa aspek yaitu topik yang menarik dan mudah dipahami.

A. Topik yang menarik

Yang dimaksud dengan topik yang menarik ini ialah peristiwa-peristiwa yang kini sedang terjadi, peristiwa yang sedang panas panasnya diperbincangkan oleh semua orang. Misalnya adalah apa yang sedang terjadi akhi-akhir pekan ini ? Siapakah yang mengalami peristiwa tersebut ? Dimanakah peristiwa itu terjadi ? Kapan dan mengapa peristiwa itu dapat terjadi ? Bila karya tulis anda menyangkut 5 hal tersebut akan kemungkinan besar karya tulis anda termasuk karya tulis dengan topik yang menarik.

B. Mudah dipahami oleh pembaca

Dalam aspek kualitas karya tulis yang kedua ini merupakan dimana saat pembaca melihat judul dari suatu karya tulis. Dengan  judul yang menarik dan isi dari karya tulis itu pun sangat baik, sipembaca pun tertarik untuk membacanya. Isi karya tulis agar mudah dipahami ialah dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, memberikan gambar dari suatu pengertian yang kurang jelas agar lebih dapat dipahami oleh pembaca dan apa tujuan pembuatan dari suatu karya tulis tersebut.

Dampak Pengaruh Budaya Luar Terhadap Perubahan Sosial Budaya DiIndonesia

0

Sebelum saya menuliskan apa dampak positif dan  negative yang terjadi di Indonesia saya ingin menjelaskan apa itu sosial budaya ? dan kenapa kita harus belajar memahami Ilmu sosial budaya tersebut.

Sosial Budaya bagi saya adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang hubungan sosial dan kebudayaan. Ilmu ini akan mengajarkan kita bagaimana cari mengkaji dan mempelajari suatu konsep-konsep pemecahan masalah budaya dengan baik dan benar.

Banyak sekali sebenarnya masalah kebudyaan yang terjadi di negara kita, yaitu Indonesia. Salah satunya adalah pengaruhnya budaya barat terhadap remaja yang mengakibatkan buruknya tingkah laku remaja saat ini. Hal ini sangat disayangkan karena sudah tidak terpakainya lagi budaya timur dan seperti tidak ada gunanya lagi kita mempelajari Ilmu Sosial Budaya.

Kenapa kita bangsa Indonesia khususnya para remaja harus paham dan mempelajari Ilmu Sosial Budaya, agar dapat tumbuhnya sikap saling menghormati antara suatu budaya dengan budaya lainnya, agar dapat tumbuh sikap keramah-tamahan antara sesama dan diri sendiri, agar bisa sebagai pegangan untuk diri kita saat kita masuk ke dunia baru dan supaya kita memiliki sikap tengang rasa.

Banyak masyarakat akibat era globalisasi mengalami perubahan pola pikir, saat ini makin banyak pola pikir pragmatis dan materialistis terjadi dimana-mana. Adapun dampak positif dan negative dari perubahan sosial budaya di Indonesia antara lain;

Dampak Positif:

Dengan adanya Kemajuan dalam bidang teknologi dan peralatan hidup, masyarakat pada saat ini dapat bekerja secara cepat dan efisien karena adanya peralatan yang mendukungnya sehingga dapat mengembangkan usahanya dengan lebih baik lagi.

Lebih lanjut lagi dampak positif dalam globalisasi misalnya, adalah:

  1. Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi
  2. Terjadinya industrialisasi
  3. Produktifitas dunia industri semakin meningkat.
  4. Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki.
  5. Di bidang kedokteran dan kemajauan ekonomi mampu  menjadikan produk kedokteran menjadi komoditi.

Dampak Negatif:

Dapat menghilangkan kebudayaan asli Indonesia, serta dapat terjadi proses perubahan sosial didaerah yang dapat mengakibatkan permusuhan antar suku sehingga rasa persatuan dan kesatuan bangsa menjadi goyah.
Apabila budaya asing masuk ke Indonesia, dan tidak ada lagi kesadaran dari masyarakat untuk mempertahankan dan melestarikannya, dipastikan lagi masyarakat Indonesia tidak akan dapat lagi melihat kebudayaan Indonesia kedepan.

Lebih lanjut lagi mengenai dampak negatif yang ada, misalnya :

1. Penyalahgunaan Fungsi

Bebasnya setiap orang mengakses ataupun menggunakan teknologi, maka dengan mudah juga terjadi penyalahgunaan fungsi dari teknologi tersebut.

2. Pemborosan Biaya

Teknologi yang tidak akan ada habisnya, akan membuat para penggunanya tidak pernah puas sehingga perlu biaya untuk selalu mengupdate teknologi yang mereka miliki ataupun penggunaan teknologi komunikasi yang makin meluas juga diikuti penambahan biaya.

3. Global Warming

pengalihan kinerja manusia ke mesin tentu makin menyebabkan polusi udara sehingga memperparah pemanasan global, namun akhir akhir para produsen teknologi telah memproduksi segala kebutuhan teknologi yang di imbangi dengan pelestarian alam dan ramah lingkungan.

Adapun beberapa contoh dari dampak positif dan negatif dari perkembangan budaya yakni, seperti yang tertera di bawah in :

Contoh dampak positif :

Sebagai contoh saya mengambil dari budaya yang ada sekarang misalnya saja perkembangan pada pengetahuan teknologi. Sekarang teknologi bukan lagi jadi bahan yang tabu di masayarakat umum dengan kemajuan teknologi semua dapat dengan mudahnya di selesaikan. Sebagai contoh penggunaan gadget, laptop dan lain sebagai nya, dengan gadget dan laptop kita dapat mengetahui informasi apapun, kapanpun dan dimanapun dengan mudah, dengan koneksi internet tentunya.

Contoh dampak negatif :

Dari contoh dampak positif diatas dapat kita artikan juga sebagai dampak negatif di karenakan jika dalam penggunaan teknologi itu tidak benar tentunya akan menjadi sangat berbahaya. Sebagai contoh yaitu, penipuan, perjudian, kejahatan dunia maya dan lain sebagainya. Oleh karena itu kita sebagai manusia haruslah selektif dalam memilih hal yang dapat merugikan dan juga menguntungkan serta dapat berdampak positif dan juga negatif.

Dasar Hukum Ekonomi DiIndonesia

0

Landasan atau dasar hukum atas hukum ekonomi di Indonesia adalah Pancasila yang juga merupakan landasan filosofis Indonesia. Maksudnya adalah pancasila sebagai dasar dan tujuan setiap peraturan perundang-undangan dan pastinya mengatur pula mengenai perekonomian. Selain Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 juga dijadikan sebagai dasar hukum. Indonesia memiliki sumber daya alam namun tidak bisa dikelola dengan baik lantaran tidak memiliki modal sehingga membutuhkan modal dari swasta, serta sumber daya manusia yang kurang mendukung. Penguasaan terhadap teknologi pun sangat jauh dan tertinggal. Akibatnya, memperlemah daya saing.

Sejarah Sistem Ekonomi Pancasila

0
Khusus dalam hal ekonomi diperjelas lagi dalam pasal 27 [2] berbunyi; tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 33 berbunyi; [1] Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. [2] Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasasi oleh negara. [3] Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
sebenarnya adalah sejarah republik Indonesia. Ia setua republik ini karena lahir dalam jantung bangsa lewat Pancasila dan UUD-45 beserta tafsirannya. Karena itu, sistem ekonomi Pancasila bersumber langsung dari Pancasila sila kelima; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan amanat pasal 27 [2], 33-34 UUD-45. Sila kelima ini menjelaskan bahwa semua orientasi berbangsa dan bernegara—politik ekonomi, hukum, sosial dan budaya—adalah dijiwai semangat keadilan menyeluruh dan diperuntukkan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam bab penjelasan dari pasal 33 bab kesejahteraan sosial lebih jauh dinyatakan bahwa, demokrasi ekonomi adalah produksi yang dikerjakan oleh semua, untuk semua di bawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakat diutamakan, bukan kemakmuran orang seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas usaha kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu adalah koperasi. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua orang.Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kalau tidak, tampuk produksi jatuh ke tangan orang yang berkuasa dan rakyat banyak akan ditindasinya. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak yang boleh di tangan orang seorang. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat, sebab itu harus dikuasasi oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sedang Pasal 34 berbunyi; Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Dengan landasan konsepsional tersebut maka sistem ekonomi Pancasila berada pada tiga level sekaligus; ontologis, epistemologis dan aksiologis. Keberadaan sistem Ekonomi Pancasila sudah ada dengan Pancasila sebagai landasan idealnya dan UUD-45 sebagai landasan konstitusionalnya. Keduanya lebih lanjut dijabarkan dalam Tap MPR/S [GBHN], UU dan Peraturan Pemerintah. GBHN sendiri merupakan arah dan kebijakan negara dalam penyelenggraaan pembangunan, termasuk pembangunan ekonomi. GBHN juga merupakan hasil perencanaan nasional yang disusun oleh pemerintah dan dibahas serta disahkan dalam sidang umum MPR. Pada level Tap MPR tentang GBHN dapat kita lacak dari ketetapan No. XXIII/MPRS/1966.

Sistem Perekonomian Indonesia

0

Latar Belakang Sistem Ekonomi Pancasila (SEP) Merupakan sistem ekonomi yang digali dan dibangun dari nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat Indonesia. Beberapa prinsip dasar yang ada dalam SEP tersebut antara lain berkaitan dengan prinsip kemanusiaan, nasionalisme ekonomi, demokrasi ekonomi yang diwujudkan dalam ekonomi kerakyatan, dan keadilan.

Sebagaimana teori ekonomi Neoklasik yang dibangun atas dasar faham liberal dengan  mengedepankan nilai individualisme dan kebebasan pasar (Mubyarto, 2002: 68), SEP juga dibangun atas dasar nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia, yang bisa berasal dari nlai-nilai agama, kebudayaan, adat-istiadat, atau norma-norma, yang membentuk perilaku ekonomi masyarakat Indonesia. Suatu perumusan lain mengatakan bahwa : “ Dalam Demokrasi Ekonomi yang berdasarkan Pancasila harus dihindarkan hal-hal sebagai berikut:
  • Sistem free fight liberalism yang menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia dan bangsa lain yang dalam sejarahnya di Indonesia telah menimbulkan dan mempertahankan kelemahan structural ekonomi nasional dan posisi Indonesia dalam perekonomian dunia.
  • Sistem etatisme dalam arti bahwa negara berserta aparatus ekonomi negara bersifat dominan, mendesak dan mematikan potensi serta daya kreasi unit-unit ekonomi diluar sektor negara.
  • Persaingan tidak sehat serta pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok dalam berbagai bentuk monopoli dan monopsoni yang merugikan masyarakat dan cita-cita keadilan sosial.” (GBHN 1993).
Seorang pakar senior lain mengatakan bahwa terdapat 5 ciri pokok dari sistem ekonomi Pancasila yaitu : (Mubyarto, 1981).
1.    Pengembangan koperasi penggunaan insentif sosial dan moral.
2.    Komitmen pada upaya pemerataan.
3.    Kebijakan ekonomi nasionalis
4.    Keseimbangan antara perencanaan terpusat
5.    Pelaksanaan secara terdesentralisasi