Solusi Tawuran

0
  1. Sekolah, Sekolah berperan penting dalam menerapkan peraturan – peraturan yang harus dipatuhi pada setiap pelajar
  2. Menetapkan sanksi yang tegas kepada setiap muridnya yang diketahui membawa barang barang berbahaya yang memicu tawuran
  3. Pendidikan agama yang kuat
  4. jika perlu tempat sekolah A dan B yang sering terjadi tawuran dipindahkan ketempat yang berbeda dan jauh.

Faktor – Faktor Penyebab Tawuran

0

1. Faktor Pribadi

Remaja dizaman sekarang identik dengan kegaya – gayaan, dia selalu bertingkah laku sok jago – jagoan agar dia disegani dengan teman sebayanya, maka dari itulah remaja sekarang harus dibekali dengan perilaku positif dari kecil.

2. Faktor Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan paling utama untuk pendidikan. jika dalam suasana keluarga kurang baik, maka akan mengganggu pertumbuhan seorang anak. contohnya orang tua yang sangat sibuk tidak pernah memperhatikan anaknya, rumah tangga yang kacau sering terjadi pertikaian dan lainnya.

3. Faktor Teman Sebaya

Bila seorang remaja akrab bergaul dengan teman yang berprilaku kurang baik, ada kemungkinan remaja tersebut akan ikut menjadi berprilaku tidak baik begitupun sebaliknya.

4. Faktor Sekolah

Kedisiplinan dan tata tertib sekolah yang buruk merupakan salah satu faktor penyebabnya.

Cerita Tentang Tawuran

0

Sangat memperhatinkan Dunia Pendidikan di negara ini, dengan maraknya tawuran antar pelajar yang sekarang sedang ramai di bicarakan di media elektronik dan media cetak. Siswa yang seharusnya belajar dan menambah ilmu pengetahuan agar dapat bersaing dengan bangsa lain. Banyak pihak sudah lelah membicarakan tawuran pelajar di Ibu Kota. Tak kurang-kurang pemikiran para ahli diketengahkan sebagai tawaran pemecahan masalah. Berbagai penelitian dilakukan sejak 1980-an. Pada umumnya, tawuran diamati sebagai kenakalan remaja. Ada yang melihatnya sebagai perilaku bermasalah dan deprivasi sosial, frustrasi agresi, dan ada juga sudut pandang yuridis. Pakar kriminologi Muhammad Mustapha (1998) dan pakar psikologi Winarini Wilman (1998) menyoroti kelemahan peneliti sebelumnya. Ketidakberhasilan argumentasi teoretis penelitian atau pakar sebelumnya diduga karena penelaahan tak memperhitungkan tawuran sebagai gejala tingkah laku kelompok yang berbeda dengan penyimpangan tingkah laku individu.

Berbagai upaya ditempuh dengan melibatkan kepolisian, hasilnya belum menggembirakan. Yang terjadi, kekerasan dalam tawuran kian meningkat, nekat, dan beringas. Berbagai penelitian membuktikan, tak ada korelasi antara pelaku tawuran dan keluarga yang tidak harmonis. Juga tak ditemukan hubungan antara siswa yang terlibat tawuran dan penyalahgunaan narkoba. Justru untuk menyelamatkan diri dari tawuran, seorang siswa harus punya kesadaran dan kewaspadaan tinggi serta kondisi fisik prima. Penelitian Mustapha dan Winarini menunjukkan tak ada bukti meyakinkan, secara individual, siswa yang terlibat punya karakteristik pribadi dan latar belakang berbeda dari kelompok siswa yang tawuran. Menurut mereka, rasa permusuhan yang mendominasi situasi tawuran harus dipahami dalam kerangka dinamika kelompok yang amat kecil kaitannya dengan karakteristik individual anggota kelompok tawuran. Dengan demikian, teori yang mencoba menghubungkan siswa yang terlibat tawuran berasal dari keluarga yang tak harmonis menjadi mitos yang salah. Winarini (1998) membuktikan, baik siswa yang terlibat maupun tidak mengaku memiliki hubungan dekat dengan orangtuanya.

Pendapat yang menyatakan sekolah berkualitas buruk dan berdisiplin rendah sering terlibat tawuran juga tak sepenuhnya benar. Dalam kenyataan (contoh kasus Bulungan), keterlibatan sekolah yang secara akademis tergolong papan atas dalam tawuran cukup tinggi dan membahayakan dalam arti menimbulkan korban tewas. Winarini juga melihat tawuran tak ada kaitan dengan tingkat kecerdasan dan prestasi belajar. Banyak siswa berprestasi juga terlibat. Siswa cerdas ternyata punya kontribusi dalam mengatur strategi atau evakuasi (penyelamatan) diri dan teman-temannya